Kritik Anies soal Wacana Penutupan Prodi Tak Dibutuhkan Industri

Penulis

Admin

Terbit28 Apr 2026
Baca3 Menit
Kritik Anies soal Wacana Penutupan Prodi Tak Dibutuhkan Industri
Foto: Dok. Gerakan Rakyat • Kritik Anies soal Wacana Penutupan Prodi Tak Dibutuhkan Industri

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, memberikan respons serius terhadap isu penutupan sejumlah program studi perguruan tinggi yang dinilai pemerintah kurang selaras dengan kebutuhan dunia industri.

Menurutnya, langkah semacam itu berpotensi memunculkan keraguan mendalam mengenai orientasi pendidikan nasional ke depan.Melalui unggahan di platform X miliknya @aniesbaswedan, seperti dilansir Tirto pada Minggu (26/4/2026), Anies menyampaikan bahwa sejumlah kebijakan memang terlihat praktis dan efisien jika dilihat dari kacamata jangka pendek.

Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa pertimbangan matang, kebijakan tersebut justru berisiko mengubah arah strategis perjalanan bangsa di masa mendatang.Anies juga mengkritisi anggapan bahwa ilmu-ilmu dasar sering dipandang terpisah dari realitas industri, seolah-olah hidup dalam isolasi akademis.

Faktanya, justru dari ranah inilah lahir fondasi bagi hampir semua terobosan teknologi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.Ia menegaskan bahwa berbagai rumus matematis yang tampak abstrak atau teori-teori yang pernah dianggap tidak aplikatif, pada kenyataannya menjadi cikal bakal teknologi modern yang kini kita andalkan.

Sebagai ilustrasi, kemajuan seperti jaringan internet, pengembangan kecerdasan buatan, serta inovasi di sektor kesehatan, tidak mungkin terwujud tanpa kontribusi riset fundamental yang dilakukan para ilmuwan tanpa jaminan manfaat langsung.Bagi Anies, para peneliti bekerja didorong oleh keingintahuan intelektual untuk memahami mekanisme alam semesta, bukan semata-mata merespons permintaan pasar.

Ia menekankan bahwa ukuran relevansi suatu ilmu tidak selalu dapat dinilai dalam rentang waktu singkat. Apa yang hari ini tampak tidak berhubungan dengan industri, bisa saja menjadi pilar utama kemajuan di masa depan.Sebagai mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies juga mengingatkan bahwa negara yang hanya fokus mencetak tenaga kerja instan tanpa memperkuat fondasi keilmuan dasar berisiko terjebak sebagai konsumen teknologi belaka.

Alih-alih menjadi inovator, bangsa tersebut justru akan bergantung pada solusi impor dan kehilangan kemampuan untuk melahirkan jawaban orisinal dari dalam negeri.Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa sejumlah kebijakan publik yang efektif justru bersandar pada disiplin ilmu dasar. Contohnya, ilmu epidemiologi yang krusial dalam penanganan wabah, kajian lingkungan untuk merespons krisis iklim, hingga teori ekonomi yang menjadi landasan perumusan kebijakan fiskal.

Melemahkan posisi ilmu murni, menurutnya, sama dengan memangkas kapasitas bangsa untuk memahami kompleksitas dunia secara utuh. Tanpa pemahaman mendalam, keputusan strategis rentan diambil secara dangkal dan reaktif.Meski demikian, Anies tidak menampik pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan sektor industri.

Ia menegaskan bahwa kedua pihak tidak perlu diposisikan sebagai pihak yang saling bertentangan. Keterkaitan dengan dunia kerja memang penting, namun hal itu tidak berarti mengorbankan pengembangan ilmu dasar.Yang diperlukan, menurutnya, adalah upaya membangun sinergi dan jembatan penghubung antara keduanya, bukan memilih salah satu dan mengabaikan yang lain.

Pada esensinya, fungsi pendidikan tinggi melampaui sekadar pencetakan tenaga kerja siap pakai. Ia merupakan wahana untuk mempersiapkan masa depan dan memperkuat fondasi peradaban bangsa. Masa depan, ujarnya, tidak pernah dibangun hanya berdasarkan apa yang tampak berguna saat ini, dan pembangunan peradaban tidak boleh direduksi semata-mata menjadi proyek industrialisasi.Sebagai penutup, Anies menekankan urgensi menjaga keseimbangan antara penguasaan keterampilan praktis dan pendalaman pemikiran dasar, antara tuntutan kebutuhan kini dan visi jangka panjang.

Hanya dengan keseimbangan inilah Indonesia dapat berdiri sebagai bangsa yang tidak hanya mampu mengikuti arus kemajuan global, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakannya.